Perpustakaanku, Jendela Duniaku
Perpustakaan,
meski ada di setiap instusi pendidikan, merupakan tempat yanghampir tak
terjamah oleh tangan-tangan peserta didik. Munculnya persepsi perpustakaan
sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang “tidak gaul” dalam ukuran remaja
dan tidak nyaman,semakin menjauhkan perpustakaan dari kehidupan generasi baru.
padahal, disisnilah tempat untuk mengintip dunia dan berbagai literatur yang
dapat medukung proses belajar brada.
Sayangnya,
hal ini masih belum mendapat perhatian serius. Padahal, rangsangan untuk
mencintai perpustakaan ini masih harus dilakukan terus-menerus.
Sama halnya dengan belajar dengan mencintai buku, mengenalkan
perpustakan bisa di mulai sejak anak beusia 4-6 tahun. Di usia ini, anak sudah
mulai bisa memahami aturan dan penjelasan tentang apa yang boleh dan tidak
bolehdilakukan di perpstakan. Dengan mengajak secara berkala, lama kelamaan
anak akan merasa nyaman berada di tengah deretan buku-buku tesebut.
Selain itu, tentu saja diperluka kerja sama dari pihak pengelola
perpustakaan, dengan memberi kenyamanan melalui penataan buku dan interior yang
mendukung. Perpustakan anak, misalnya bisa dibuat dengan meggunakan warna-warni
cerah dan meja kursi kecil, serta karpet yang mnarik. Penataan buku berdasakan
usia pembaca juga dilakukan, seperti yang diterapkan di perpustakaan Nasional
Belanda. Dengan demikian, anak pun merasa nyaman dan menganggap perpustakaan
sebagai salah satu tempat bermain mereka yang sifatnya edukatif.
Penyediaan buku-buku berkualitaspun patut diperhatikan. Pasalnya
tidak sedikit murid atau mahasiswa yang memiliki ketertarikan untuk mengunjungi
perpustakaan menjadi enggan ketika mengetahui buku yang dimiliki tidak lengkap atau tidak bagus. Selain itu sistem
komputerisasi untuk memudahkan pencarian buku pun menjadi salah satu bahan
pertimbangan. Disadari atau tidak, hal-hal tersebut dapat merangsang setiap
orang untuk mencintai perpustkaan

0 comments:
Post a Comment