Wednesday, 10 June 2015
Begitu bahagianya melihat teman
seperjuangan tidur nyenyak tanpa beban. Teman senang, otomatis gue senang. Kalau
susah, kita juga kudu sama-sama susah. Demikianlah penderitaan anak kos.
Hidupnya beda-beda tipis, dengan lirik lagu Slank, “Biar ga punya apa-apa, tapi
banyak cinta”. Cinta? Iya cinta.. Cinta yang bersemi di antara kami memang
sudah cukup lama. Gue dan Idham sudah menjalin hubungan gelap ini semenjak kami
hidup bersama dalam satu atap.
Gue sebenarnya malu mengakui ini.
Tapi, apa boleh buat. Gua harus jujur. Dari sinilah gue belajar merasakan
kemanisan dari sesuatu yang pahit. Menjadikan gubuk derita sebagai batu
loncatan hubungan kami di masa mendatang. Hubungan yang penuh dinamika dan
konsekuensi sosial yang sangat berat. Yakni, hubungan dari sebuah keterikatan
fisik yang sangat vital. Semboyan dari hubungan tersebut adalah, “Punya lo,
punya gue juga”. Yang berarti kolor lo, boleh dong gue pake? Haha
Jadi, maksudnya adalah hubungan
kami semakin erat. Karena, kami punya kebiasaan tukar-tukaran kolor setiap
seminggu sekali. Mungkin bagi sebagian orang, ini adalah sesuatu yang
menjijikan. Tapi, bagi kami; ini merupakan aktivitas yang membuat hubungan
pertemanan semakin erat dan sangat menolong di saat-saat sulit. Masa sih?
Mau bukti? Untuk lebih jelasnya,
Simak cerita berikut ini!
Suatu ketika, Idham memakai kolor
yang gue punya. Begitu pun sebaliknya. Kolor punya gue berwarna pink dan Idham
kuning. Nah, kebetulan hari itu, jatuh tempo kreditan papan penggilesan yang
Idham beli 7 bulan lalu. Tukang kredit itu pun datang dengan memakai jas dan
berdasi bak orang melamar kerja di perusahaan asuransi perut buncit.
“Woyyy… Buka pintunya! Mane si
Idham?! Utang papan penggilesan aja sampe nunggak 6 bulan lo?! Rugi banda nih
gue!” Sahut lantang sang tukang kredit seperti pasukan pengibar bendera.
Isi Surat Idham Kepada Tukang
Kredit
Selanjutnya, saya ingin
mengucapkan terimakasih yang amat mendalam kepada abang. Abang ini, tukang
kredit yang paling berjasa bagi nusa dan bangsa. Berbakti kepada orangtua serta
sangat patut untuk diteladani. Bahkan menurut saya, abang itu pantas menerima
penghargaan, “Tukang Kredit Awards” edisi majalah gadis yang terbit pada tahun
1945. Sungguh, saya sangat mengagumi abang.
Namun, apa mau dikata, bang.
Tampaknya kita harus berpisah. Penyakit bisul yang selama ini menggerogoti
tubuh saya tidak kunjung sembuh. Hingga akhirnya, kita berbeda alam sekarang
dan untuk selamanya.
Melalui surat ini, saya
maklumatkan agar utang-utang saya diimpaskan saja. Karena saya tidak punya
tabungan di bawah kasur apalagi di bank untuk membayarnya. Maka, saya akan
mengganti pembayaran utang papan penggilesan tersebut dengan sebuah kolor
berwarna kuning. Kolor ini, sering saya cuci dengan papan penggilesan yang saya
beli di abang. Semoga abang menyukainya.
Akhir kata dari saya,
Muaaaaaah (ciuman terakhir saya
buat abang)
Wassalammualaikum Wr. Wb
Setelah membaca surat tersebut, si
Tukang Kredit ini, meneteskan air mata. Sepertinya dia terharu dengan isi
suratnya.
“Gue sedih sih baca surat ini.
Walaupun agak geli.” Pungkasnya lugas
Setelah gue melepas kolornya, gue
langsung kasih ke tukang kredit pea itu. Penyerahan kolor itu pun tidak secara
langsung. Tetapi, dengan upacara-upacara aneh. Ini terpaksa gue lakukan, karena
permintaan sang penagih (tukang kredit). Ya udah deh. Mau ga mau harus gue
turutin.
“Ku serahkan kolor pusaka
pemberian Idham kepada Kisana yang Mulia.” (Teks ini permintaan tukang kredit
itu juga)
Diskusi aneh dan penuh tantangan
itu berlangsung selama tiga jam. Lalu, kemana Idham?
Hahaha, Idham gue umpetin di atas
loteng yang banyak kotoran tikusnya. :D
“Dham… Dham… lo baik-baik aja
kan?” Tanya gue sembari naik ke loteng.
Setelah itu, Idham gue turunin ke
bawah. Dan ternyata dia pingsan. Asli… gue bingung banget pas dia pingsan.
Akhirnya mau ga mau, gue relakan keperawanan bibir gue buat ngasih nafas buatan
ke Idham. Hedeh, kalau bukan temen, mana mau gue bantuin dia sampai melakukan
itu.
Cerpen Karangan: Tara Prayoga
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment